Kondisi pemerintahan pasca reformasi belum juga memberikan
perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. Kecenderungan untuk kembali
merajalelanya pola-pola orde baru terlihat dengan jelas, salah satu indikasinya
adalah semakin tingginya tingkat korupsi di negeri kita, berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh PERC, yang diakibatkan lemahnya sistem hukum dinegara kita.
Fungsi kontrol yang dijalankan oleh legislatif terkesan jauh dari hakekatnya
sebagai pembawa aspirasi rakyat, justru yang lebih menonjol adalah pembawa
aspirasi golongannya.Kondisi legislatif teralienasi ini semakin diperparah dengan kurang responsifnya partai-partai politik terhadap isu-isu publik untuk pemberdayaan rakyat, pengentasan krisis, serta pencerdasan bangsa. Mereka lebih sibuk dengan isu-isu berdimensi aliran, uang serta pembagian kekuasaan. Kondisi yang akut ini menuntut gerakan mahasiswa untuk proaktif dalam mengkritisi kinerja pemerintahan yang kontraproduktif.
Akan tetapi, justru gerakan mahasiswa seolah kehilangan arah gerakannya pasca reformasi sehingga terpolarisasi kepada banyak kutub. Sebagian mahasiswa telah terlena dalam euforia reformasi sehingga cenderung lebih sering berkutat dengan bangku kuliahnya dibandingkan ikut dalam mempengaruhi proses politik bangsa ini. Menurut Yozar Anwar, pada dasarnya gerakan mahasiswa merupakan gerakan budaya, karena ia memiliki kemandirian dan berdampak politik yang sangat luas. Oleh karena itu mereka tidak boleh cepat puas dengan hasil yang dicapai. Gerakan mereka juga harus senantiasa menggunakan asas kebenaran politik dan pengungkapan kebenaran publik sekaligus. Maka, budaya Indonesia yang cenderung cepat puas dengan keadaan dan tidak peduli dengan perkembangan karena sibuk sendirian, tidaklah patut menjadi paradigma gerakan mahasiswa.
Ada pula yang terkooptasi oleh kepentingan politik sesaat, ataupun berafiliasi kepada partai yang sudah ada, sehingga pola gerakan dan isu yang dibangun sudah tereduksi oleh kepentingan golongannya. Ini merupakan gejala kemunduruan gerakan mahasiswa, karena stigma yang telah dikenakan kepada mahasiswa sebagai gerakan yang independen dan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan golongannya. Ketidakpastian politik di negeri ini, pasca reformasi yang digulirkan oleh gerakan mahasiswa, menggugah berbagai elemen bangsa untuk kembali mempertanyakan eksistensi gerakan mahasiswa dalam perjalanan politik bangsa ini. Gerakan mahasiswa dituntut untuk kembali melakukan perubahan signifikan guna memperbaiki kerusakan yang terjadi di negeri ini.
Untuk itu dibutuhkan isu sentral yang dapat mempersatukan gerakan mahasiswa yang berserak ini (meminjam Istilah Ignas Kleden). Gagasan tentang revolusi sistemik cukup mendasar untuk dijadikan isu sentral arah baru gerakan mahasiswa sekarang ini. Mengingat kondisi bangsa yang belum bisa terlepas dari pengaruh kultur orde baru, maka kekuatan orde baru yang ada dalam sistem haruslah mundur ataupun dimundurkan sehingga dapat digantikan dengan orang-orang baru yang cenderung lebih bersih dari pengaruh dan kultur orde baru. Sejalan dengan gagasan Prof. Deliar Noer, kalau menginginkan reformasi total, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, mengingat pengalaman masa lalu. Konsistensi diperlukan dan pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang tidak terlibat dalam masa sebelumnya. Konsesi apapun tidak dapat dibenarkan untuk diberikan kepada pemerintah, kecuali dalam rangka reformasi.
Revolusi sistemik yang dimaksud diatas adalah perubahan radikal (mendasar) secara menyeluruh terhadap sistem lama yang sudah usang dan digantikan oleh sistem baru yang akan memuat nilai-nilai baru yang lebih baik. Secara struktural revolusi sistemik mengarah kepada perubahan sistem politik yang merupakan kulminasi dari agenda reformasi. Sementara proses kultural adalah tahapan antara yang menghantarkan kepada perubahan sistem politik. Proses perubahan secara struktural dan kultural dilalui agar perubahan tidak hanya terjadi pada level suprastruktur tapi juga infrastruktur. Sebuah tuntutan yang harus digulirkan kepada gerakan mahasiswa, adalah bagaimana mengembalikan ruh gerakan mahasiswa pada hakekatnya. Sebagai gerakan yang progresif, kritis dan independen, dengan begitu maka akan terwujud terbangun tatanan demokrasi yang kita idamkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar