====NEX >> Sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah tidak berhenti
pada diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis
mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap refresif
Pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan
ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (pergerakan
mahasiswa islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI
(Pergerakan Mahasiswa Kristen Indoenesia) atau yang lebih dikenal dengan
kelompok Cipayung. Ini juga dialami
penulis yang menemukan titik kejenuhan
jika hanya bergulat dengan ORMAWA intra kampus, karena mahasiswa menjadi
kurang peka terhadap lingkungan sekitar, apalagi predikat mahasiswa adalah
sebagai agent of intelegence, agent of change, agent of social control, yaitu
mahasiswa sebagai seorang kaum terdidik, sebagai pembaharu dan sebagai kontrol
sosial.
Gerakan mahasiswa era sembilan puluhan mencuat dengan
tumbangnya Orde Baru dengan ditandai lengsernya Soeharto dari kursi
kepresidenan, tepatnya pada tanggal 12 mei 1998.
Gerakan mahasiswa
tahun sembilan puluhan mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan
terjadi krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan
melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah
dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional
gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda
REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat.
Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat dalam mengubah kondisi yang ada, kondisi
dimana rakyat sudah bosan dengan pemerintahan yang terlalu lama 32 tahun !
politisi diluar kekuasaan pun menjadi tumpul karena terlalu kuatnya lingkar
kekuasaan, dan dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).
Simbol Rumah
Rakyat yaitu Gedung DPR/MPR menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota
di Indonesia, seluruh komponen mahasiswa dengan berbagai atribut almamater dan kelompok semuanya
tumpah ruah di Gedung Dewan ini, tercatat FKSMJ (Forum Komunikasi Senat
Mahasiswa Jakarta), FORBES (Forum Bersama), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia) dan FORKOT (Forum Kota). Sungguh aneh dan luar biasa, elemen
mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan :
Turunkan Soeharto.
Dua elemen
mahasiswa yang mencuat adalah FKSMJ dan FORKOT. Penulis mengenal betul karakter
dua elemen mahasiswa ini. FKSMJ yang merupakan forumnya senat mahasiswa se
Jakarta, lebih intens melakukan koordinasi dan terkesan hati-hati dalam
menyikapi persolan yang muncul, dan lebih apik dalam beraksi karena menghindari
gerakan mata-mata intel. Sedangkan FORKOT yang terdiri dari kelompok aktivis
mahasiswa Pers Kampus lebih “radikal” dalam beraksi dan berani menentang arus,
sehingga tak jarang harus berhadapan langsung dengan aparat, dan bentrok fisik
pun tak terelakan.
Perjuangan
mahasiswa menuntut lengsernya sang Presiden memang tercapai, tapi perjuangan
ini sangat mahal harganya karena harus dibayar dengan 4 nyawa mahasiswa Tri
Sakti, mereka gugur sebagai Pahlawan Reformasi, serta harus dibayar dengan
tragedi Semangi 1 dan 2. Memang lengser nya Soeharto seolah menjadi tujuan
utama pada gerakan mahasiswa sehingga ketika pemerintahan berganti, isu utama
kembali kepada kedaerahan masing-masing. FORKOT dan FKMSMJ pun kembali
bersebrangan tujuan.
REFORMASI terus bergulir, perjuangan
mahasiswa tidak akan pernah berhenti sampai disini. Perjuangan dari masa ke
masa akan tumbuh jika Penguasa tidak berpihak kepada rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar