Pada musim kali ini beretepatan dengan hangatnya isu politik di tataran pemerintahan Indonesia,dari pemilu Legislatif sampai pemilu presiden.Pada Kurun waktu ini jelas,begitu banyak polemik yang terjadi di negeri ini.Banyak isu-isu dan pertempuran politik terjadi di atas rumput negeri ini..
Pergulatan yang sangat besar, seperti halnya dua kubu yang sedang bertarung banyak senjata-senjata politik yang digunakan untuk mengalahkan lawan,termasuk meggunakan media,dan tak terkecuali peran mahasiswa..
Di sisi lain yang saya amati,begitu banyak mahasiswa yang terlibat dalam pertempuran politik ini, kebanyakan mereka menamakan diri dengan sebutan "relawan".Entah apa yang jadi agenada utama bagi mahasiswa seperti ini mau memasang badannya untuk terlibat sebagai relawan, yang jelas partai politik punya untung untuk memamfaatkan moment ini..Mungkin bagi sebagaian beranggapan relawan itu bukanlah kader partai,tapi bagi saya mau relawan ataupun kader partai itu tidak ada bedanya.Relawan ini lanyaknya kader muda, yang sedikit banyak sudah tumbuh dalam pikiran dan dirinya sebuah stigma dari partai politik yang di ikutinya (Red : untuk jadi relawan) .
Relawan partai politik bertingkat dari yang mengusung satu nama partai politik sampai yang hanya mengusung satu tokoh.Saya ambil contoh relawan mahasiswa untuk bapak Jokowi dan bapak Yusuf Kala yang mencalonkan diri menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia.Di daerah saya sendiri para relawan mahasiswa capres dengan no urut 2 ini menamakan mereka dengan sebutan relawan mahasiswa banua.Ada pula relawan dari mahasiswa untuk pimpinan partai pak Anis Mata, dan juga para relawan mahasiswa untuk kualisi merah putih.Hal ini jelas sekat antara mahasiswa dan politik itu sudah samar, mahasiswa seakan mau mengeksiskan dirinya dalam pergulatan politik ini tidak sekedar sebagai pengamat dan penikmat,tapi juga sebagai orang yang terlibat.
Mahasiswa yang mau tergabung dalam relawan politik semacam ini bukan hanya sekedar mahasiswa biasa,tapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memegang predikat aktivis kampus.Alasan mereka mungkin beragam kenapa mau terlibat politik secara langsung seperti ini,entah itu untuk sebuah kepentingan, strategi agenda, dan/atau sebagai strategi bagi sebuah aktivitas politik porsinya mahasiswa sekarang.
Bahkan para aktivis ini tidak main kucing-kucingan dalam menjalankan aktivitasnya sebagai seorang relawan ,dari berfoto dengan para tokoh elit politik sampai ikut berkampanye untuk para elit politik.Bahkan para aktivis mahasiswa ini adalah mereka yang menduduki posisi tertinggi di keorganisasian kampus,misalkan saja seorang aktivis yang maju di pencalonan ketua ketua disalah satu organisasi mahasiswa kampus ,mereka tidak menutupi adanya keterlibatan penguasa dalam regulasi kegiatan penacalonannya di perebutan kekuasaan ketua Organisasi kampus.Ambil contoh dalam spanduk kampanye mereka dengan leluasanya meletakan logo yang berhubungan dengan para elit/penguasa di salah satu bagian spanduk kampanye..
Kondisi di atas membuat banyak tanya di benak saya,apakah ini strategi baru seorang aktivis kampus dalam perpolitikan ??..Yang pasti dari pandangan saya hal ini justru menghilangkan fungsi kontrol mahasiswa yang independen dalam hal perpolitikan.Jika strategi keterlibatan ini alasanya agar bisa lebih dekat dengan penguasa,agar lebih mudah mengontrol,dan bahkan agar bisa bergerak bersama memebrikan yang terbaik untuk negeri ini,entah kanapa saya tidak puas dengan alasan semacam itu.Karena logika saya sederhana dan berkaca dari pengalaman, seorang kader akan membela golongannya (pengkadernya ) dalam setiap kondisi apapun,kerena secara pemikiran seorang kader sudah di stigmakan banyak hal tentang arah dan tujuan dari golongan itu,dalam hal ini yang saya maksud adalah partai politik.
Hal di atas jelas,kebenaran dan kesalalahan,kebaikan dan kejahatan seakan menjadi terlihat samar dan tak ada lagi batas,seperti halnya kopi dan susu jika disatukan yang dirasakan adalah aroma yang baru.Membuat mahasiswa kehilanga fungsi berpikir idependen dan wibawanya saat di posisikan pada penegakan kebenaran politik.
Ihwal contoh saja saat seorang elit partai terjerat kasus hukum,pastinya semua kader politik itu akan dijelaskan sebuah 'pembEnaran' dan 'pembelaan' untuk elit politik yang berkasus tersebut yang pastinya juga akan melibatkan mahasiswa yang menjadi relawan ( red : kader muda).Jika sudah begini,dimana idenpenden berpikirnya mahasiswa ?..Dimana wibawanya mahasiswa??
Walaupun di sisi lain nampak positif dekatnya mahasiswa dengan penguasa/para elit akan begitu mudah mengendus kejahantannya, yang berarti mahasiswa itu siap sebagai relawan 'penghianat' jika sudah begini apakah mahasiswa sudah begitu pandai dalam 'penghianatan'?..
Eentahlah saya belum dapat jawaban yang memuaskan tentang arah dan strategi mahasiswa sekarang dalam menjalankan perannya sebagai aktivis kampus...semoga bagaimanapun bentuknya strategi itu, para aktivis mahasiswa tidak dijadikan sebagai corong politik penguasa dan alat berjalan para elit politik negeri.Semoga para aktivis mahasiswa benar-benar menyuarakan dan berbuat untuk kebenaran yang berpihak pada keadilan dan kebaikan untuk rakyat Indonesia khususnya.aammiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar