Assalaamu ‘alaa manittaba alhudaa
( Semoga keselamatan diberikan kepada orang yang mengikuti petunjuk.)
Serangkaian
teori, konsep dan pemikiran yang diuraikan pada pembahasan sebelumnya
Agama dan Tuhan, Pandangan Kaum Atheis disadari atau pun tidak telah
memperangkap kebanyakan orang dalam paradigma kaum Atheis yang menolak
keberadaan agama, Tuhan dan ajarannya. Dalam Bab 2 ini penulis mencoba
untuk kembali mendiskusikan konsep dan pemikiran tersebut dengan
kejernihan dan ketajaman berpikir kita. Dalam pembahasan ini diharapkan
akan timbul kesadaran pembaca akan kekeliruan dalam cara pandang dan
pola berpikir selama ini.
1. Manusia, Makhluk yang Lemah
Dalam
diri manusia terdapat suatu potensi yang disebut akal atau rasio. Akal
berfungsi untuk berpikir, dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan
mencari kebenaran. Mencari kebenaran merupakan hasrat manusiawi,
sebagai makhluk yang berakal. Guna mendapatkan pengetahuan dan
kebenaran tersebut, dalam diri manusia juga dilengkapi perangkat yang
namanya panca indera berupa mata, telinga, hidung, kulit dan lidah.
Dengan panca indera ini manusia berusaha untuk menangkap fenomena alam
dan lingkungan, yang kemudian akan ditransfer ke dalam akal untuk diolah
menjadi sebuah pengetahuan. Dengan proses menangkap fenomena alam oleh
panca indera dan menstranfer ke dalam akal, secara menerus itulah,
manusia berusaha untuk mencari kebenaran. Namun panca indera yang
digunakan untuk mengenali dan menangkap fenomena alam dan lingkungan ini
memiliki keterbatasan dan kelemahan. Mata misalnya, hanya dapat
melihat pada jarak tertentu saja dan menginformasikan dengan benar apa
yang dilihatnya. Tetapi diluar jarak yang mampu dilihatnya itu, mata
tak mampu melihat obyek secara tepat, sehingga yang diinformasikan ke
dalam akal pun pengetahuan yang keliru. Terhadap obyek yang cukup jauh
mata tak mampu melihat secara tepat, seperti melihat gunung dalam jarak
yang jauh seolah berwarna biru, melihat laut seolah berwarna biru,
melihat dua garis sejajar (rel kereta api) seolah bertemu pada satu
titik, melihat pinsil yang dimasukkan sebagian ke dalam air di ember
seolah patah dan masih banyak lagi contoh lainnya. Telinga dalam
fungsinya sebagai indera pendengar, juga memiliki keterbatasan. Telinga
hanya mampu mendengarkan suara dengan frekuensi tertentu saja. Pada
suara yang sangat lemah ataupun suara yang sangat keras, telinga tak
dapat berfungsi dan menginformasikannya pada akal. Dan sering informasi
yang ditangkappun keliru ketika ditransfer ke akal. Demikian pula
indera-indera lainnya memiliki keterbatasan dan kelemahan. Padahal panca
indera inilah yang diandalkan untuk memberikan masukan pengetahuan
pada akal/otak untuk dianalisis dan disimpulkan menjadi suatu
kebenaran. Akal atau rasio manusia yang digunakan untuk berpikir,
mengolah informasi mengenai fenomena alam dan lingkungan yang diberikan
oleh panca indera ternyata juga memiliki keterbatasan dan kelemahan.
Memang dengan akal manusia bisa mengolah informasi, membentuk
pengertian-pengertian, pendapat-pendapat, kesimpulan- kesimpulan suatu
pengetahuan. Tetapi pengetahuan yang mampu didapatkan sebatas pada
informasi yang diberikan oleh panca indera (yang sering keliru), dan
kemampuan berpikirnya juga sebatas pengalaman-pengalaman yang pernah
didapatnya. Kalaupun berpikir untuk sebuah idea dan gagasan baru, tetap
terbatas pada abstraksi yang mampu dibentuknya yang sifatnya subyektif.
Sehingga belum tentu bisa diterima orang lain dan komunitas lainnya.
Maka kebenaran yang didapatnya adalah kebenaran yang subyektif,
kebenaran yang relative sifatnya. Tidak bisa dijadikan sebagai pedoman.
Emmanuel Kant (1724-1804) dalam bukunya yang terkenal Critic der
Theoritische Vernunft, mengakui akan keterbatasan akal manusia. Dia
menandaskan bahwa penyelidikan dengan akal (budi) benar-benar dapat
memberikan sesuatu pengetahuan mengenai dunia yang tampak, akan tetapi
akal (budi) itu sendiri tidak sanggup untuk membeikan
kepastian-kepastian, dan bahwa berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan
terdalam mengenai Tuhan, manusia, dunia, dan akhirat, akal (budi)
manusia itu tidak mungkin memperoleh kepastian-kepastian, melainkan
hidup dalam pengandaian.
2. Kelemahan Teori-teori Filsafat Barat
Teori
dan konsep filsafat barat yang telah mempengaruhi cara pandang dan
pola berpikir kebanyakan orang selama ini juga terdapat banyak
kelemahannya. Marilah kita coba bahas teori dan konsep yang ada pada bab
satu secara rinci sebagai berikut:
a. Klarifikasi atas Pandangan Marx
Menurut
Marx, agama sebagai candu masyarakat. Dalam pandangan Marx, agama
seperti candu, ia memberikan harapan-harapan semu, dapat membantu orang
untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya. Seorang yang
sedang terbius oleh candu/opium dengan sendirinya akan lupa dengan diri
dan masalah yang sedang dihadapinya. Bagi Marx, agama juga merupakan
medium dari ilusi sosial. Agama tidak berkembang karena ada kesadaran
dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena kondisi yang
diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melanggengkan
kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukan oleh orang-orang yang
memiliki kekuasaan dipandang oleh Marx sebagai sikap meracuni
masyarakat. Pernyataan Marx bahwa agama sebagai candu masyarakat,
muncul tatkala dia mengamati realitas empiris di sekitarnya pada saat
itu, dimana orang beragama dan melakukan ritualitas karena menghindari
realitas hidup yang dihadapinya dan agama mampu meninabobokan para
penganut agama tersebut. Juga masalah penyebaran agama yang dilakukan
oleh tokoh-tokoh agama untuk melanggengkan kekuasaan bisa dimaklumi,
karena memang demikian kenyataan saat itu. Dan ini terjadi pada agama
Kristiani, yang menjadi fokus kritik Marx pada fungsi politik agama,
khususnya yang menjadikan agama sebagai ideologi Negara. Agama telah
dijadikan alat pukul oleh Negara untuk membungkam para pemeluknya yang
memprotes sikap otoriter para pemimpin politik dan ekonomi Prussia.
Pandangan
Marx tersebut tak bisa digunakan untuk menggeneralisir semua agama.
Juga keterbatasan kemampuan Marx dalam memahami tentang agama secara
hakekat, maksud dan tujuan-lah yang mengantarkannya pada pengetahuan
tersebut.
b. Materi Bukan Segalanya
Materialisme
menganggap segala yang ada adalah materi. Unsur pokok, dasar dan
hakekat segala sesuatu yang ada itu materi. Materi adalah suatu yang
abadi, tidak diciptakan dan ada dengan sendirinya. Materi adalah awal
dan akhir kehidupan. Paham materialisme menganggap pikiran, gagasan dan
idea merupakan hasil dari kerja materi. Pada akhirnya paham
materialisme mengingkari keberadaan agama dan Tuhan. Pandangan yang
menyatakan bahwa segala yang ada materi adalah sebuah kekeliruan. Dalam
diri manusia sendiri, disamping adanya materi juga ada unsur non materi
yang mampu menggerakkan tubuh materinya. Yang membuat tubuh materi
tersebut hidup. Dan ketika manusia meninggal, ada sesuatu yang lepas
dari tubuh materinya. Lalu bagaimana materialisme memandang sesuatu
(yang non materi) yang lepas dari tubuh tersebut?
Dalam
kehidupannya, manusia juga dihadapkan berbagai hal yang non materi.
Energi listrik yang mampu menggerakkan peralatan elektronik, yang
terdiri dari elektronelektron bersifat gelombang tak bisa dikatakan
sebagai materi. Energi tersebut
kenyataannya ada, dan manusia tak
pernah dapat menangkapnya secara langsung. Masih banyak lagi dalam
dunia ini “sesuatu” yang bukan materi. Dus anggapan bahwa segala
sesuatu adalah materi tidak lah tepat. Dan teori materialisme tak bias
dijadikan dasar pengetahuan akan sebuah kebenaran.
c. Berpikir Tak Dapat “mengadakan” Sesuatu
Apa
yang dikatakan Rene Descartes yaitu “cogito ergo sum” yang artinya aku
berpikir, maka aku ada, bukanlah bermakna bahwa dengan berpikir mampu
“mengadakan” sesuatu. Hakekat berpikir adalah bertanya, bertanya adalah
mencari jawaban. Maka dengan berpikir akan didapat suatu pengetahuan,
suatu kepahaman, kesadaran akan adanya sesuatu. Berpikir bukanlah bisa
mengadakan sesuatu tetapi hanya bisa menyadari keberadaan sesuatu.
Kenyataannya sejumlah benda yang ada di sekitar kita, baik kita
pikirkan maupun tidak, tetaplah ada. Dan suatu benda yang tak ada, tak
akan pernah diwujudkan hanya dengan sekedar berpikir. Terhadap sesuatu
yang tidak nyata, yang kemudian kita pikirkan adanya hanyalah dalam
abstraksi pada pikiran kita. Anggapan bahwa Tuhan pada kepercayaan
orang-orang beragama, hanyalah hasil rekayasa pikiran, adalah sebuah
kesalahan. Jika Tuhan merupakan hasil rekayasa pikiran, betapa hebatnya
pemilik pikiran tersebut yang mampu merekayasa adanya Tuhan. Dan
seseorang akan merekayasa sejumlah Tuhan sesuai keinginannya. Jika
pemilik pikiran tersebut mengalami kematian, Tuhan pun akan ikut mati.
Maka untuk peran apakah Tuhan direkayasa? Demikianlah, sesungguhnya
pikiran manusia tidak akan pernah menjangkau hakekat keberadaan Tuhan.
Apalagi merekayasa atau menciptakan Tuhan, kecuali hanyalah Tuhan-tuhan
illutif dan Tuhan-tuhan semu.
d. Skeptisisme Kaum Atheis
Perkembangan
pemikiran manusia baik perorangan maupun masyarakat, menurut Comte,
melalui tahapan zaman teologi, metafisi dan positif. Pada zaman positif
yang ditandai dengan kemajuan dan perkembangan sains dan teknologi,
manusia sudah tidak lagi membutuhkan kepercayaan, agama maupun Tuhan,
karena seluruh persoalan telah mampu diatasi dengan sains dan teknologi
itu sendiri. Pandangan demikian jauh dari kenyataan. Tahapan-tahapan
secara keilmuan, bisa saja terjadi perkembangan pemikiran manusia,
namun masalah kepercayaan, agama dan Tuhan, tak sepenuhnya hilang dari
pemikiran
mereka, meski berusaha mereka ingkari. Masyarakat komunis yang anti
Tuhan, yang menolak keberadaan Tuhan pun tak sepenuhnya bisa
menghilangkan akan perasaan akan adanya Tuhan. Mereka sendiri sebetulnya
skeptis (meragukan) akan apa yang dipahaminya tentang ketiadaan Tuhan.
Bahkan pada saat-saat tertentu, mereka masih berharap adanya
kekuatan-kekuatan di luar dirinya (mistis) yang bisa menolongnya. Dan
pernyataan “God is dead” adalah lontaran dari kesombongan ilmiah,
kesombongan intelektualitas yang menyesatkan, yang sebenarnya merupakan
pengingkaran akan hati nurani sendiri.
3. Kelemahan Teori-teori Kebenaran
Sebagai
makhluk yang mencari kebenaran, manusia dengan potensi akalnya akan
terus berusaha untuk menemukan hakekat kebenaran. Namun pengetahuan
hanya mengantarkan pada kebenaran-kebenaran yang subyektif.
Kebenaran-kebenaran yang secara teoritis merupakan hasil temuan ilmiah
yang sebetulnya memiliki banyak kelemahan, yang bisa kita diskusikan
berikut ini :
a. Kelemahan Teori Koherensi
Teori
kebenaran ini banyak dianut oleh kaum idealis, menurut mereka sesuatu
yang disebut benar itu adalah yang benar menurut idea dan dalam idea
tanpa memperhatikan fakta. Plato mengatakan bahwa yang disebut kuda
yang sebenarnya adalah kuda yang ada dalam idea. Sedangkan kuda menurut
kenyataan dan yang nyata adalah bayangan dari kuda yang ada dalam idea.
Dari pernyataan Plato ini lalu timbul pertanyaan “Plato yang
sebenarnya itu ada dalam idea siapa?”, mengingat dari teorinya sendiri
menyatakan bahwa Plato yang ada adalah bayangan dari Plato yang ada
dalam idea (pikiran). Filosof Britania Bradley (1864 -1924) sebagai
penganut idealisme menyatakan bahwa kebenaran itu tergantung pada orang
yang menentukan tanpa harus memandang realitas peristiwa, asalkan
dalam pikiran itu ada, jika pikiran itu tidak ada maka apapun yang ada
di dunia ini tidak ada. Padahal orang yang berakal sehat akan
mengatakan bahwa setiap yang ada di luar manusia, berpikir atau tidak
berpikir kalau zat/sesuatu tersebut memang ada, maka akan tetap ada.
b. Kelemahan Teori Korespondensi
Sesuatu
itu benar jika sesuai dengan fakta, atau dapat dikaji dengan fakta.
Ternyata dalam realitasnya tidak semua masalah dapat dikaji berdasarkan
fakta. Misalnya aliran listrik yang mengalir dalam suatu penghantar
yang faktanya dapat dirasakan berupa gejala-gejala listrik yang
ditimbulkannya (aliran listrik) akan tetapi hal yang sesungguhnya
berupa gerakan-gerakan electron yang tidak dapat dilihat, dibaui,
didengar atau bahkan dirasakannya bukan gerakan-gerakan yang
sesungguhnya itu hanya ada dalam pikiran. Begitu juga cinta, tidak dapat
dikaji dengan fakta akan tetapi yang dapat dikaji dengan fakta-fakta
hanyalah akibat atau gejala dari cinta itu.
c. Kelemahan Teori Pragmatisme
Sesuatu dianggap benar jika bermanfaat, teori ini bagaimana kalau diterapkan
terhadap
pernyataan “Menyontek sewaktu ujian” dan ” Mencuri” serta “Narkoba”,
apakah ketiga hal tersebut merupakan kebenaran? Kalau ya, kenapa setiap
siswa/mahasiswa ujian selalu dijaga ketat, dan jika ketahuan ada yang
menyontek diberika sangsi? Lalu mencuri. Apakah dengan mencuri yang
mana hasil dari curian tersebut sangat bermanfaat bagi si pencuri itu
juga dapat dikatakan benar? Kemudian dengan keberadaan narkoba
(narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya) apakah juga dibenarkan
oleh akal sehat dan diterima oleh setiap orang?
4. Kelemahan Metode Ilmiah
Untuk
bisa mendapatkan kebenaran ilmiah, harus dilakukan melalui metode
ilmiah. Kebenaran seperti apa yang dihasilkan dari metode ilmiah?
Sebetulnya kalau kita mau cermati, maka metodologi ilmiah itu sendiri
memiliki kelemahan bahkan sangat lemah untuk bisa digunakan mencari
hakekat kebenaran. Dalam metodologi ilmiah, harus memenuhi persyaratan
empiris, obyektif, rasional dan sistematis. Empiris berarti suatu
kebenaran berdasarkan pengalaman yang dapat ditangkap dengan pancaindra,
dan dapat dibuktikan. Padahal sebagaimana dalam uraian mengenai
kelemahan panca indra kita yang tak pernah mampu berfungsi terhadap
seluruh obyek dan mampu menangkap dengan tepat apa yang dilihat,
didengar dan
dirasakan. Maka pengetahuan sebagai hasil dari
pengalam berdasarkan panca indera, tak sepenuhnya benar. Obyektif
berarti suatu kebenaran harus mengandung nilai obyektifitas,
berdasarkan fakta yang menjadi obyek pengetahuan, bukan berdasarkan
yang menilai atau yang mengamati (subyek-nya). Dalam kenyataannya,
banyak pengetahuan yang dijadikan sebagai kebenaran hanya atas asumsi
dan dugaan sementara dari orang perorang. Jadi kebenaran tersebut
sebenarnya bersifat subyektif, yang belum tentu dapat diterima orang
lain. Rasional berarti kebenaran tersebut bersumber dari akal (rasio)
atau pikiran manusia, dimana pengalaman-pengalaman hanya sebagai
perangsang bagi pikiran. Kebenaran demikian merupakan kesimpulan dari
pengalaman-pengalaman sebelumnya dan menjadi pengetahuan dalam akal
manusia. Namun pada realitasnya banyak kebenaran yang tidak masuk
diakal, yang tidak rasional, namun diikuti oleh banyak orang dan
dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Sistematis berarti berurutan, yakni
dalam menemukan kebenaran harus melalui proses yang berurutan.
Sistematis sebagai sebuah metode bisa menjadi keharusan, namun tahapan
yang dikerjakan secara berurutan itu belum tentu sebagai kebenaran yang
hakiki. Berdasakan uraian dan penjelasan tersebut diatas, maka
metodologi ilmiah sebagai cara untuk menemukan kebenaran tidak bisa
untuk dijadikan patokan secara mutlak. Kebenaran yang didapat dari
metodologi ilmiah sebatas kebenaran yang relative, bahkan terkadang
tidak konsisten dengan persyaratan ilmiah itu sendiri.
5. Teori Asal Usul Kehidupan dan Evolusi Darwin
Uraian
mengenai asal usul kehidupan yang penulis kemukakan dalam bab satu,
merupakan hasil dari sebuah kajian dan penelitian ilmiah. Maka dengan
mengetahui akan kelemahan metode ilmiah tersebut, kita tak bisa
menjadikan teori-teori asal usul kehidupan diatas sebagai pengetahuan
yang benar.. Dalam kebenaran ilmiah senantiasa terjadi perubahan dan
pembaharuan manakala ada hasil temuan dan penelitian lainnya yang dapat
menumbangkan teori pengetahuan sebelumnya. Inilah sifat kebenaran
ilmiah. Kebenaran teori-teori tersebut bersifat relative. Teori Darwin
tentang evolusi sudah banyak yang menyanggah. Telah terbukti
ketidakbenarannya. Dalam teorinya mengenai evolusipun tak memperoleh
data lengkap. Ada mata rantai yang terputus (missing link}. Demikianlah,
teori evolusi Darwin ini juga tak bisa dijadikan sebuah pengetahuan
yang benar. Harun Yahya mengupas cukup dalam tentang tipudaya teori
evolusi Darwin ini dalam bukunya “Allah is Known Through Reason” yang
diterjemahkan Muhammad Shodiq, S. Ag. Menurut Harun, teori evolusi
adalah suatu filosofi dan konsepsi dunia yang menghasilkan suatu
keasalahan hipotesis, asumsi dan scenario khayalan dengan tujuan
menjelaskan keberadaan dan asal-usul kehidupan dengan hanya secara
kebetulan. Filosofi ini berakar jauh di zaman lalu sekuno Yunani-kuno.
Ide khayal Darwin dianut dan dikembangkan oleh kalangan ideologis dan
politis tertentu dan teorinya menjadi sangat populer. Alasan utamanya
adalah bahwa tingkat pengetahuan saat itu belum memadai untuk
menyingkapkan bahwa skenario imajinasi Darwin itu sala. Ketika Darwin
mengajukan asumsinya, disiplin ilmu genetika, mikrobiologi, dan biokimia
belum ada. Jikalau ada, Darwin mungkin dengan mudah mengenali bahwa
teorinya tidak ilmiah sama sekali, dan sehingga takkan ada yang berusaha
mengajukan pernyataan omong kosong tersebut, informasi yang menentukan
spesies telah ada dalam gen dan seleksi alamiah tidak mungkin
menghasilkan spesies baru dengan mengubah gen. Pada masa bergaungnya
buku darwin, ahli botani Austria yang bernama Gregor Mendel menemukan
kaidah pewarisan sifat di tahun 1865. Meskipun kurag dikenal hingga
akhir abad itu, penemuan Mendel menjadi sangat penting awal 1900-an
dengan lahirnya ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian, struktur gen dan
kromosom itemukan. Pada 1950-an, penemuan molekul DNA, yang menghimpun
informasi genetik, menempatkan teori evolusi pada krisis yang hebat,
karena keluarbiasaaan informasi dalam DNA, tidak mungkin diterangkan
sebagai kejadian kebetulan. Selauin semua perkembangan ilmiah ini, tidak
ada bentuk-bentuk transisi, yang diduga menunjukkan evolusi organisme
hidup secara bertahap dari yang primitif menuju spesies yang maju, yang
pernah ditemukan walaupun dengan pencarian bertahun-tahun.
6. Existensi Tuhan
Kebenaran
yang dicapai dengan melalui ilmu pengetahuan maupun filsafat hanya
kebenaran yang bersifat subyektif, kebenaran yang bersifat relative
bukan kebenaran yang hakiki. Karena perangkat yang digunakan untuk
mencapai kebenaran tersebut diatas memiliki keterbatasan dan kelemahan.
Panca indera dan akal manusia memiliki keterbatasan untuk mencapai
pada kebenaran yang hakiki. Dengan mengakui relativitas manusia sebagai
bagian dari alam, akan membawa konsekuensi logis, sesuatu yang tidak
relative, yang berada “di luar” alam. Jadi “Ada” sesuatu sebelum dan
sesudah adanya alam. Ada sesuatu yang tak terjangkau panca indera dan
akalnya, “sesuatu” itulah yang mengawali dan mengakhiri kehidupan ini.
“Sesuatu” yang memiliki super power, yang menciptakan alam semesta
beserta isinya, yang mengelola dan mengatur ciptaannya. Terhadap
“sesuatu” itu, orang menyebutnya dengan “Tuhan”. Banyaknya suku,
bangsa, aliran, kepercayaan dan agama menimbulkan banyaknya konsepsi
akan ketuhanan dari masing-masing komonitas. Untuk melakukan pendekatan
akan pengetahuan mengenai Tuhan yang hakiki, kita perlu mengenal
karakteristik dari Tuhan yang bisa diakui secara obyektif, sebagai
kebenaran universal. Dari uraian bab sebelumnya dan pembahasan mengenai
kelemahan ilmu pengetahuan dan filsafat, kita telah ketahui
pengetahuan akan kebenaran yang dihasilkannya adalah subyektif,
sifatnya relative. Maka Tuhan dalam arti sebenarnya tentu tidak memiliki
sifat relative, Tuhan yang tidak terjangkau, yang tidak dikenal dengan
akal pikiran manusia. Dia memiliki sifat Mutlak. Mutlak dalam segala
kehendak dan perbuatannya. Siapapun tak ada yang dapat mempengaruhi
kehendaknya, mempengaruhi perbuatannya, mempengaruhi
keputusan-keputusannya. Karakteristik demikian disebut Absolut (mutlak).
Karena karakternya mutlak, maka Dia tentu berbeda dengan keberadaan
makhluknya. Tak ada sesuatu yang dapat menyerupainya. Menyerupai dalam
seluruh sifat, dzat, kehendak dan perbuatannya. Karakteristik demikian
disebut Distinct yang artinya berbeda. Karena Tuhan berbeda dengan yang
lain, maka Dia juga memiliki karakter yang lain yaitu khas atau unique,
artinya tak ada sesuatu yang menyamainya. Demikianlah, Tuhan dalam
arti yang sebenarnya memiliki karakter Absolut (mutlak), Distinc
(berbeda dengan lainnya) dan Unique (tak ada yang menyamainya). Inilah
karakteristik Tuhan yang sebenarnya. Untuk mengenal existensi Tuhan,
yang patut kita imani perlu kita teliti dan cermati, dengan cara
menganalisis agama atau kepercayaan Ketuhanan yang ada, apakah memenuhi
karakteristik Tuhan sebagaimana di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar