Untaian sejarah mahasiswa pada zamannya itu
memberikan indikasi bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang lebih jika
dibandingkan dengan elemen masyarakat lain. Dan itu membutuhkan satu kesadaran.
Kesadaran yang tumbuh dari setiap mahasiswa bahwa ia tidak saja mesti
menyelesaikan tugas-tugas akademik di kampus, namun juga mesti mampu menyelesaikan
problem-problem sosial kemasyarakatan yang ternyata jauh lebih rumit ketimbang
belajar teorinya dan baca buku di dalam kelas. Keseimbangan dua aspek tadi
yakni teori dan praktik setidaknya akan membentuk pemahaman yang utuh. Teori
saja tanpa praktik adalah omong kosong, dan praktik tanpa teori dikhawatirkan
akan caos.
Mahasiswa bisa diibaratkan adalah sosok
intelektual muda yang nantinya diharapkan bisa menjadi cendekiawan. Tentu tidak
mudah menapaki jalan hidup ke sana, penuh liku dan jalan terjal yang mesti
dilalui. Karena menjadi seorang cendekiawan yang konsisten kadangkala mesti
berseberangan dengan penguasa yang bisa jadi jalan yang dipilihnya itu menyeret
pada pengapnya "hotel prodeo" alias penjara.
Lagi-lagi kita mesti membuka lembaran
sejarah mengenai hal ini. Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Natsir, Hamka,
dan yang lainnya adalah sederet cendekiawan yang pernah merasakan dinginnya
tembok penjara karena tetap meneriakkan kebenaran ketika semua orang tiarap.
Inilah risiko yang mesti ditanggung. Seorang cendekiawan yang lurus bisa
dipastikan akan lebih banyak menemui badai ketimbang damai.
Seperti yang pernah ditulis oleh Julien
Benda, seorang cendekiawan Prancis dalam bukunya yang cukup terkenal "La
trahison des clercs" (1927) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi "Pengkhianatan Kaum Cendekiawan" (hlm. 28-32)
mengatakan bahwa cendekiawan tidak boleh terikat oleh sekat-sekat budaya, ras,
bahasa, bangsa, dan geografi.
Ia harus merasa sebagai unit komunitas
global sejati. Dalam perang sekalipun, ia tidak harus membela dan berpihak pada
bangsanya. Ia selalu berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
Adagium right or wrong is my country, tidak ada dalam kamus mereka.
Berbeda dengan sosok cendekiawan, menurut
Benda, semua jenis aktivitas politik merupakan rezim militerisme dan jiwa
kolektif dari realisme, materalisme, praktikalisme, dan aktivisme. Oleh karena
itu cendekiawan tidak boleh terlibat dalam politik, militer dan diplomasi.
Memasuki dunia itu berarti minimal terlibat-menyebarkan kebencian terhadap ras
lain, faksi politik, dan sangat bangga dengan nasionalisme.
Benda mencatat
cendekiawan seperti Mommsen, Treitschke, Ostwald, Brunetiere, Barres, Lemaitre,
Peguy, Maurras, d'Annuzio, dan Kipling yang cenderung praktis, haus dengan
hasil yang sementara, semata-mata memikirkan tujuan dan bukan proses, masa
bodoh dengan argumentasi, overacting, suka menyebar kebencian dan
mempunyai obsesi sebagai cendekiawan yang akrab dengan dunia politik, militer,
dan diplomasi.
Benda memuji-muji cendekiawan seperti
Gerson, Spinoza, Zola, Duclaux, da Vinci, Malebranche, Goethe, Erasmus, Kant,
Renan, dan sebagainya yang selalu mengecam pertikaian antara egoisme dan
arogansi manusia. Dengan demikian bahwa spirit dari seorang cendekiawan adalah
menyuarakan kebenaran yang berpihak pada masyarakat bukan menjadi corong para
penguasa. Persis ketika seorang Milan Kundera berseru bahwa perjuangan melawan
kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.
Dengan itulah kemudian sesungguhnya seorang
mahasiswa mengemban tugas seorang intelektual yang sungguh berat. Apalagi jika
kita tahu bahwa biaya pendidikan kita (baca:mahasiswa) sebagian ditanggung oleh
dana yang diserap dari masyarakat. Fenomena hari ini menjelaskan bahwa dari
tahun ke tahun rasa kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat agaknya mengalami
penurunan yang cukup berarti, mereka telah dininabobokan oleh budaya hedonisme
dan terjerat ke dalam kubangan kapitalisme. Dua budaya ini lamat-lamat memasuki
relung kehidupan kita tanpa sadar.
Sederhana saja jika kita ingin melihat
fenomena ini. Cobalah bandingkan lebih banyak mana mahasiswa yang mengidap
--meminjam istilah teman saya-- sindrom lingkaran setan yakni kosan, kuliah,
nongkrong, dan begitu seterusnya tanpa memiliki variasi kegiatan yang cukup
bermakna dengan sebagian mahasiswa yang berkecimpung di unit-unit kegiatan
mahasiswa di intra maupun di ekstra kampus.
Tentu kita akan lebih banyak menyaksikan
yang pertama ketimbang yang kedua. Persoalannya tentu tidak sederhana. Mereka
dikirim orang tua untuk menuntut ilmu memang iya, namun yang mesti harus kita
sadari bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah pilihan, dan memilih sesuatu akan
meniscayakan sebuah konsekuensi yang mesti ditanggung oleh setiap personal.
Oleh karena itu sesungguhnya di samping
keheroikan label mahasiswa yang begitu "gagah" di depan masyarakat,
juga menuntut pembuktian atas hal itu. Jangan heran jika ada sebagian
masyarakat yang menganggap bahwa mahasiswa itu bagai malaikat yang mampu
menyelesaikan apa pun, apalagi jika pergi ke daerah pedesaan yang sumber daya
manusianya masih kurang.
Merevolusi kesadaran. Itulah sebenarnya
yang mesti kita benahi jika masih meyakini bahwa merekonstrusi perubahan ke
arah yang lebih progresif adalah bagian dari salah satu tugas intelektual
mahasiswa. Kapan lagi kita bisa memunculkan Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang
"baru"?
Secara umum kita memahami gerakan mahasiswa sebagai
komunitas sosial yang menjalankan aktivitas dengan usaha untuk memainkan
perannya dalam proses politik, terlepas dari skala dan metode pengerahan massa
yang dilakukannya. Terlepas dari keberhasilan ataupun kegagalan yang dilakukan
dalam menciptakan perubahan, gerakan mahasiswa memiliki posisi yang strategis
dalam mempengaruhi proses politik.
Kondisi pemerintahan pasca reformasi belum juga memberikan perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. Kecenderungan untuk kembali merajalelanya pola-pola orde baru terlihat dengan jelas, salah satu indikasinya adalah semakin tingginya tingkat korupsi di negeri kita, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PERC, yang diakibatkan lemahnya sistem hukum dinegara kita. Fungsi kontrol yang dijalankan oleh legislatif terkesan jauh dari hakekatnya sebagai pembawa aspirasi rakyat, justru yang lebih menonjol adalah pembawa aspirasi golongannya.
(Ref bapak Adman, S.Pd.[1])
Tidak ada komentar:
Posting Komentar